Selasa malam, kami beli lauk kari kambing, sambal udang telur puyuh, sambal teri medan kacang tanah. Biasanya kalau lauk -lauk ini tinggal sejumput, maka akan saya masukkan ke plastik yang akan dibawa ke kebun untuk makanan anjing yang ada di kebun. Tapi tadi malam saya merasa malas membereskan sisa makan malam, sehingga saya masukkan semua ke kulkas. Hari ini sisa makanan itulah yang kami makan, karena tidak ada yang jual makanan, dan di rumah tidak ada persediaan makanan. Tiga potong udang sambal, sejumput sambal teri medan, dan semangkok kecil kari kambing. Hari ini sudah hari Kamis, air semakin naik, pagi-pagi Midah yang mengungsi di Mesjid Raya, datang membawa 6 bungkus mie instan, 4 bungkus untuk kami dan 2 bungkus untuknya. Di beli di pajak (pasar) dekat mesjid, kebetulan ada pemilik toko yang datang ke pajak(pasar) untuk mengecek tokonya. Selain itu kami juga sudah minta tolong bulek untuk menembus banjir, beli mie instan, telur dan air mineral. Di lantai 1, di kantor, ada keranjang yang berisi dokumen, terjatuh ke air lumpur, Midah tak mampu mengangkatnya, sehingga saya meminta Midah untuk minta tolong bulek lagi, kali ini bulek dibantu adik dan temannya. Mesin pompa air kami, tidak bisa dipakai lagi, karena sudah terendam air lumpur. Paksu minta tolong bapak Herman, pemilik toko yang menjual mesin pompa air, untuk beli mesin pompa air secara kredit, sebab ATM tidak berfungsi dan Bank tidak beroperasi karena terimbas banjir lumpur. Hari Jum'at pagi, kantor dibersihkan , hampir semua meja, tidak dapat dipakai lagi, ada delapan meja, ada dua komputer dan cpu yang mungkin dapat diselamatkan dan satu laptop, tetapi beberapa komputer lainnya dan cpu mungkin tidak selamat, mesin pompa yang barupun dipasang, dengan harapan, begitu listrik menyala, kami bisa memompa air. Selama dua hari ini, rabu dan kamis kami mengandalkan air hujan yang tertampung di bak penampungan air di lantai paling atas, ternyata di sore hari, kepala lorong kami, Bapak Kalis memberi pinjaman genset. Tapi dari mana bensinnya?. Alhamdulillah mobil Jeep kuning yang biasa dipakai off road, penuh bensinnya, walaupun sudah hampir 2 tahun tidak dipakai.
Dengan adanya air, kantor bisa dibersihkan. Akte, Buku-buku dan dokumen yang terendam lumpur dapat dibersihkan.
Selain banjir, jalan juga putus. Kami harus ke medan tanggal 1 Desember, karena mesti ke Jakarta tanggal 2,untuk menghadiri acara pernikahan anak pertama kami di Bandung, tetapi kami sudah terputus hubungan dengan keluarga di Medan, sejak hari rabu tidak ada signal. Hari minggu pagi Paksu pergi ke bukit tinggi Manyak Payed untuk melihat apakah sudah bisa lewat mobil atau belum. Ternyata belum bisa lewat. Kalau pun di daerah bukit tinggi sudah bisa dilalui, di daerah alur selawe sungai liput, air masih 2 meter dalamnya. Tetapi ada yang memberi info, bahwa bengkel kupi berbagi hotspot jaringan starlink, langsung kami mengejar kesana, ternyata pemilik bengkel kupi itu teman Paksu, dan kebetulan bertemu dengan nya, kami di bagi hotspot, langsung dari HP nya, sehingga tidak perlu antri. Dan terhubunglah kami dengan keluarga di Medan, bahwa tiket pesawat sudah di reschedule menjadi tanggal 4, Alhamdulillah. Hari ini selasa tanggal 2 Desember, kami memutuskan untuk menembus Medan. Kami naik mobil Yopi, teman anak saya, dan akan diantar sampai semana bisa, setelah itu kami rencana akan jalan kaki, naik rakit dan menumpang truk, baru setelah itu akan lanjut ke Medan, naik mobil Ifan ( abang Yopi), yang menunggu kami di daerah Besitang ( Sumatera Utara). Dari Langsa menuju kota kuala Simpang ( Aceh Tamiang) yang biasa ditempuh 45 menit, ini menjadi 5 jam lebih. Di jalan banyak mobil mogok, rumah yang bergeser ke jalan, puluhan mobil yang sudah tertahan berapa hari mulai bergerak,dan jalan satu jalur.
Lepas dari Kota Kuala Simpang, kami tertahan di Alur Selawe sungai Liput sekitar 3 jam, genangan air banjir yang hari sebelumnya mencapai 2 meter dalamnya, hari ini masih tetap dalam juga, mobil berjalan perlima mobil, dan harus didahului mobil truk untuk menyibak jalan. Karena rencana ke Medan terus ke Jakarta, kami membawa beberapa koper, dan karena katanya harus jalan kaki, naik rakit, truk, jadi kami tidak membawa bekal makanan, khawatir terlalu banyak tentengan. Dan meski sudah dengar cerita sana sini, tetapi tetap tidak membayangkan juga bahwa di jalan akan sangat lama. Setelah berhasil melewati Alur Selawe, kami pun berhenti di kios - kios pinggir jalan di simpang seumadam, untuk beli air mineral dan makanan seperti roti, kue. Kami tidak jadi berganti mobil dengan mobil Ifan di perbatasan, tetap naik mobil Yopi sampai di Medan, tiba di Medan sekitar jam setengah sebelas malam. Sebelumnya sudah bertemu Ifan yang menunggu di Besitang. Langsa - Medan yang sejak adanya jalan tol, waktu tempuh hanya sekitar 3 sampai 3 jam setengah, hari ini ditempuh hampir sepuluh jam. Meskipun musibah, banyak kemudahan yang kami terima, termasuk bantuan pinjaman keuangan dari Bapak Is teman Paksu, untuk membersihkan kantor yang harus beli triplek, ini dan itu, berbagi rezeki dengan mereka yang memberikan bantuan tenaga untuk bersih -bersih kantor, di saat bank belum beroperasi dan ATM belum berfungsi, begitu juga bapak Hendri Tohnika, pemilik toko perabot dan juga tetangga kami, yang membolehkan kami beli meja dengan cicilan. Fa inna ma'al Usri Yusra, inna ma'al 'usri Yusra. Alhamdulillah.

































































