Rabu, 24 Desember 2025

Banjir Kota Langsa 26-27 Nopember 2025. Fa inna Ma'al Usri Yusra, Inna Ma'al 'Usri Yusra.

 



Hari ini hari rabu, tanggal 26 nopember 2025. Ini hari keenam hujan turun siang malam tanpa jeda. Dimulai hari Jum'at minggu lalu, sebagian orang disekitar saya, percaya mitos kalau hujan dimulai di hari Jum'at maka akan terus hujan sampai hari Jum'at depannya. Kebetulan ini juga bulan ber-ber, jadi biasa saja, tidak ada yang berprasangka akan terjadi banjir besar.                                                          Pagi rabu ini, Midah tetangga belakang rumah, yang bekerja bantu-bantu dirumah saya, datang lebih cepat dari biasanya, dan melaporkan kalau air sudah masuk di lantai satu rumah saya. Langsung saya minta dia untuk membersihkan, jangan sampai pegawai masuk kerja, kantor belum beres. Mana bisa kerja bu, katanya, seluruh Langsa banjir. Memang tadi sebelum jam 07.00, dekda sudah bilang tidak masuk kantor, karena dirumah nya air sepinggang, dan di luar rumahnya sedada. Begitu juga Puput, sudah izin tidak masuk kantor, dengan alasan yang sama. Kantor tidak bisa dibersihkan, kalau air dihalaman belum surut. Di kantor bundel minuta, protokol, dokumen mengambang di air berlumpur, saya minta Midah, mencari bulek ( Reva Rizki), tetangga saya juga, untuk mengutipi berkas yang mengambang. Alhamdulillah Midah, bulek dan seorang temannya, berhasil mengambil berkas yang mengambang.                                                                     



Selasa malam, kami beli lauk kari kambing, sambal udang telur puyuh, sambal teri medan kacang tanah. Biasanya kalau lauk -lauk ini tinggal sejumput, maka akan saya masukkan ke plastik yang akan dibawa ke kebun untuk makanan anjing yang ada di kebun. Tapi tadi malam  saya merasa malas membereskan sisa makan malam, sehingga saya masukkan semua ke kulkas. Hari ini sisa makanan itulah yang kami makan, karena tidak ada yang jual makanan, dan di rumah tidak ada persediaan makanan. Tiga potong udang sambal, sejumput sambal teri medan, dan semangkok kecil kari kambing. Hari ini sudah hari Kamis, air semakin naik, pagi-pagi Midah yang mengungsi di Mesjid Raya, datang membawa 6 bungkus mie instan, 4 bungkus untuk kami dan 2 bungkus untuknya. Di beli di pajak (pasar) dekat mesjid, kebetulan ada pemilik toko yang datang ke pajak(pasar) untuk mengecek tokonya. Selain itu kami juga sudah minta tolong bulek untuk menembus banjir, beli mie instan, telur dan air mineral. Di lantai 1, di kantor, ada keranjang yang berisi dokumen, terjatuh ke air lumpur, Midah tak mampu mengangkatnya, sehingga saya meminta Midah untuk minta tolong bulek lagi, kali ini bulek dibantu adik dan temannya. Mesin pompa air kami, tidak bisa dipakai lagi, karena sudah terendam air lumpur. Paksu minta tolong bapak Herman, pemilik toko yang menjual mesin pompa air, untuk beli mesin pompa air secara kredit, sebab ATM tidak berfungsi dan Bank tidak beroperasi karena terimbas banjir lumpur. Hari Jum'at pagi, kantor dibersihkan , hampir semua meja, tidak dapat dipakai lagi, ada delapan meja, ada dua komputer dan cpu yang mungkin dapat diselamatkan dan satu laptop, tetapi beberapa komputer lainnya dan cpu mungkin tidak selamat, mesin pompa yang barupun  dipasang, dengan harapan, begitu listrik menyala, kami bisa memompa air. Selama dua  hari ini, rabu dan kamis kami mengandalkan air hujan yang tertampung di bak penampungan air di lantai paling atas, ternyata di sore hari, kepala lorong kami, Bapak Kalis memberi pinjaman genset. Tapi dari mana bensinnya?. Alhamdulillah mobil Jeep kuning yang biasa dipakai off road, penuh bensinnya, walaupun sudah hampir 2 tahun tidak dipakai.                            

Dengan adanya air, kantor bisa dibersihkan. Akte, Buku-buku dan dokumen yang terendam lumpur dapat dibersihkan.                                                           

                                     
Selain banjir, jalan juga putus. Kami harus ke medan tanggal  1 Desember, karena mesti ke Jakarta tanggal 2,untuk menghadiri acara pernikahan anak pertama kami di Bandung, tetapi kami sudah terputus hubungan dengan keluarga di Medan, sejak hari rabu tidak ada signal. Hari minggu pagi Paksu pergi ke bukit tinggi Manyak Payed untuk melihat apakah sudah bisa lewat mobil atau belum. Ternyata belum bisa lewat. Kalau pun di daerah bukit tinggi sudah bisa dilalui, di daerah alur selawe sungai liput, air masih 2 meter dalamnya. Tetapi ada yang memberi info, bahwa bengkel kupi  berbagi hotspot jaringan starlink, langsung kami mengejar kesana, ternyata pemilik bengkel kupi itu teman Paksu, dan kebetulan bertemu dengan nya, kami di bagi hotspot, langsung dari HP nya, sehingga tidak perlu antri. Dan terhubunglah kami dengan keluarga di Medan, bahwa tiket pesawat sudah di reschedule menjadi tanggal 4, Alhamdulillah.                                               
Hari ini selasa tanggal 2 Desember, kami memutuskan untuk menembus Medan. Kami naik mobil Yopi, teman anak saya, dan akan diantar sampai semana bisa, setelah itu kami rencana akan jalan kaki, naik rakit dan menumpang truk, baru setelah itu akan lanjut ke Medan, naik mobil Ifan ( abang Yopi), yang menunggu kami di daerah Besitang ( Sumatera Utara). Dari Langsa menuju kota kuala Simpang ( Aceh Tamiang) yang biasa ditempuh 45 menit, ini menjadi 5 jam lebih. Di jalan banyak mobil mogok, rumah yang bergeser ke jalan, puluhan mobil yang sudah tertahan berapa hari mulai bergerak,dan jalan satu jalur.                                       
 








Lepas dari Kota Kuala Simpang, kami tertahan di Alur Selawe  sungai Liput sekitar 3 jam, genangan air banjir yang hari sebelumnya mencapai 2 meter dalamnya, hari ini masih tetap dalam juga, mobil berjalan perlima mobil, dan harus didahului mobil truk untuk menyibak jalan. Karena rencana ke Medan terus ke Jakarta, kami membawa beberapa koper, dan karena katanya harus jalan kaki, naik rakit, truk, jadi kami tidak membawa bekal makanan, khawatir terlalu banyak tentengan. Dan meski sudah dengar cerita sana sini, tetapi tetap tidak membayangkan juga bahwa di jalan akan sangat lama. Setelah berhasil melewati Alur Selawe, kami pun berhenti di kios - kios pinggir jalan di simpang seumadam, untuk beli air mineral dan makanan seperti roti, kue.         
Kami tidak jadi berganti mobil dengan mobil Ifan di perbatasan, tetap naik mobil Yopi sampai di Medan, tiba di Medan sekitar jam setengah sebelas malam. Sebelumnya sudah  bertemu Ifan yang menunggu di Besitang. Langsa - Medan yang sejak adanya jalan tol, waktu tempuh hanya sekitar 3 sampai 3 jam setengah, hari ini ditempuh hampir sepuluh jam. Meskipun musibah, banyak kemudahan yang kami terima, termasuk bantuan pinjaman keuangan dari Bapak Is teman Paksu, untuk membersihkan kantor yang harus beli triplek, ini dan itu, berbagi rezeki dengan mereka yang memberikan bantuan tenaga untuk bersih -bersih kantor, di saat bank belum beroperasi dan ATM belum berfungsi, begitu juga bapak Hendri Tohnika, pemilik toko perabot dan juga tetangga kami, yang membolehkan kami beli meja dengan cicilan. Fa inna ma'al  Usri Yusra, inna ma'al 'usri Yusra. Alhamdulillah. 

Minggu, 19 Oktober 2025

Nonton F1 di Singapore? Siapa takut.


 Sungguh saya tidak terlalu mengikuti berita tentang F1. Tidak pernah nonton di TV. Bahkan baca di koran atau medsos hanya sepintas saja.         Beberapa saat sebelum ke Singapore, saya mencoba cari tahu tentang  Max Verstappen dan Lando Norris, tapi hanya sekedar saja.                          Tadi pagi saya sudah mengunjungi Gallery 26, disini kita bisa mengetahui sejarah Singapore GP dan lihat mobil balapnya, serta hal - hal yang berbau F1.                                                
           












Hari ini, tanggal 05 Oktober 2025, sekitar jam 5.00 sore waktu Singapore, saya, anak saya Anggi dan temannya bulek sudah antri di gate 3 b. Meski banyak penonton, antrian dan pemeriksaan tas bawaan berjalan tertib dan lancar.                         










Di Padang stage, sudah hampir mulai pertunjukan Lewis Capaldi, saya sama sekali tidak mengenal penyanyi ini dan juga lagu - lagunya.                                    



Dari sini menuju ke tempat untuk menonton balapan atau viewing Platform, tetapi tempat sudah diisi oleh penonton yang duduk.       






Beberapa saat kemudian, saya keluar dari viewing Platform, dan menonton melalui big screen, diatas langit Singapore malam ini bulan penuh.      Singapore Grand Prix ini mempunyai keunikan    tersendiri yaitu balapan di malam hari, lintasan di tengah kota yang diriuhi gemerlapnya kota pada malam hari, serta pertunjukan artis papan atas dunia. 



Kami berpindah lagi ke Padang stage, untuk menyaksikan Elton John. Meski lagunya yang saya kenal hanya candle in the wind, tapi saya cukup tahu tentang penyanyi ini.                                              




Malam ini juga dimeriahkan dengan kembang api.    

Sebelum pertunjukan selesai, kami sudah pulang untuk menghindari keramaian. Keluar sebagai pemenang malam ini adalah George Russel.                            Penonton oma dan opa bule banyak, oma opa Chinese juga banyak, oma opa Melayu dan India, ada satu dua, oma Indonesia? Siapa takut, ada saya, he.. he...